Berhenti Sejenak untuk Melaju Kisah Inspiratif Wisudawan Terbaik UBSI
BSINews, Sukabumi — Di balik gelar akademik yang membanggakan, selalu ada cerita yang layak dibagikan. Tahun ini, salah satu kisah itu datang dari Tasya Kyranie Noor Annisa, mahasiswi Program Studi Sistem Informasi yang meraih predikat Cum Laude dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digital Kreatif. Bukan hanya karena prestasinya, tetapi karena keputusannya untuk mengambil career break setelah menyelesaikan studi—sebuah pilihan yang jarang disampaikan secara terbuka oleh para lulusan berprestasi.
Tasya, Lulusan Terbaik yang Berani Memilih Jeda demi Menata Masa Depan
Perjalanan menjadi wisudawan terbaik bukanlah proses yang mudah. Begitu pula bagi Tasya Kyranie Noor Annisa, mahasiswi Sistem Informasi asal Garut yang tahun ini berhasil meraih predikat Cum Laude dari UBSI kampus Sukabumi. Namun yang membuat ceritanya berbeda adalah keputusan jujurnya untuk mengambil career break setelah lulus.
Setelah bertahun-tahun berkutat dengan tugas, deadline, organisasi, hingga aktivitas perantauan, Tasya merasa perlu berhenti sejenak. Baginya, jeda adalah ruang untuk menata ulang arah hidup dan mengisi kembali energi.
“Jeda bukan berarti menyerah, tapi memberi diri sendiri ruang untuk kembali kuat,” ungkapnya dalam keterangan tertulis pada Minggu (7/12) .
Saat pertama kali memasuki kampus, ia langsung merasa cocok dengan lingkungan UBSI yang suportif, teratur, dan jauh dari gambaran chaos seperti yang ia dengar dari beberapa teman di kampus lain. Pemilihan Program Studi Sistem Informasi pun melalui pertimbangan matang karena ia melihat dunia hari ini bergerak dengan data sebagai penggerak utama.
Dari banyak mata kuliah, Interaksi Manusia dan Komputer (IMK) menjadi favoritnya. Baginya, merancang antarmuka yang ramah pengguna terasa menantang sekaligus menyenangkan karena sangat dekat dengan dunia nyata.
Aktivitas Tasya selama kuliah pun penuh warna. Ia aktif di HIMASI, mengikuti Program Kampus Mengajar saat semester lima, lalu melanjutkan Magang & Studi Independen di semester tujuh. Di sela waktu, ia tetap menyempatkan diri mengambil berbagai kelas online sebagai investasi untuk pengembangan diri.
Ketika namanya disebut sebagai wisudawan terbaik, ia mengaku terharu sekaligus merasa memiliki tanggung jawab baru.
“Ada beban baik yang muncul. Rasanya ingin terus berkontribusi di mana pun aku berada,” tuturnya.
Tentang metode belajarnya, Tasya tidak menerapkan pola ekstrem. Ia lebih suka memahami inti materi, mengatur waktu sesuai kapasitas, aktif berdiskusi, dan tetap menjaga ruang untuk istirahat.
“Belajar itu penting, tapi kepala juga butuh santai,” ujarnya sambil tersenyum.
Baca juga : Bukan Hanya Cum Laude Tasya dan Keberanian Mengambil Career Break
Untuk rencana ke depan, Tasya ingin bekerja terlebih dahulu, namun tetap membuka kemungkinan melanjutkan studi jika waktunya tepat. Ia juga menyampaikan apresiasinya terhadap kurikulum UBSI yang terintegrasi, relevan, dan berbasis studi kasus sehingga membuat proses belajar terasa hidup dan tidak monoton.
Pesannya untuk para lulusan dan calon lulusan jelas:
“Jangan berhenti hanya pada ijazah. Upgrade skill, terutama soft skill. Dunia kerja bergerak cepat, dan kita harus ikut bergerak.”
Untuk adik tingkat, ia meninggalkan satu kalimat sederhana namun berarti:
“Kamu boleh lelah, boleh ragu, tapi jangan berhenti.”
Kisah Tasya menjadi pengingat bahwa perjalanan kuliah bukan perlombaan siapa yang paling cepat selesai, tetapi tentang keberanian menata ulang langkah dan memahami diri. Hari ini, ia berdiri bukan hanya sebagai lulusan terbaik, tetapi sebagai contoh bahwa mengambil jeda pun merupakan bentuk kedewasaan. (Aurora)