Demi Belajar Komputer bersama Mahasiswa BSI Explore 2026, Anak-anak Pantai Bahagia Rela Tempuh Perjalanan hingga Dua Jam
BSINews, Bekasi – Bagi sebagian anak, belajar komputer mungkin hanya membutuhkan langkah sederhana menuju ruang kelas. Namun, bagi sejumlah siswa di Desa Pantai Bahagia, Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, keinginan untuk mengenal komputer membuat mereka rela menempuh perjalanan panjang demi mengikuti les yang diberikan mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) melalui program BSI Explore 2026, Jumat (21/8).
Kisah tersebut diceritakan Muhammad dhafi Sukandar, Ketua Kelompok 13 Utama BSI Explore Desa Pantai Bahagia. Selama kurang lebih dua minggu menjalankan pengabdian, Dafi bersama tim tidak hanya mendampingi kegiatan pembelajaran di sekolah, tetapi juga memperkenalkan dasar-dasar penggunaan laptop dan komputer kepada siswa kelas 4, 5, dan 6.
Program les komputer tersebut diberikan sebagai bagian dari upaya memperkenalkan literasi digital kepada siswa sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi kebutuhan pembelajaran, termasuk persiapan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Antusiasme siswa ternyata jauh melampaui perkiraan mahasiswa.
Dhafi mengatakan, sejumlah siswa yang harus menggunakan akses perahu untuk menuju sekolah bahkan rela berjalan kaki hingga sekitar dua jam untuk kembali mengikuti kegiatan les komputer. Meski mahasiswa sempat menyampaikan bahwa mereka tidak harus mengikuti kegiatan apabila aksesnya terlalu sulit, anak-anak tersebut tetap memilih datang setelah meminta izin kepada orang tua.
“Mereka rela berjalan pulangnya itu sekitar dua jam dari sekolah untuk mengikuti kegiatan les komputer ini. Kita juga sudah bilang kalau misalnya tidak memungkinkan tidak apa-apa, tapi mereka tetap memaksa dan minta izin kepada orang tuanya dan diizinkan,” ujar Dhafi dalam keterangan rilis yang diterima pada Jumat (21/8).
Bagi dhafi, pengalaman tersebut menjadi salah satu hal paling berkesan selama menjalankan BSI Explore 2026. Ia melihat semangat anak-anak untuk belajar sebagai energi yang justru menguatkan mahasiswa dalam menjalankan program pengabdian.
“Mereka punya semangat yang begitu besar dengan kedatangan kita. Semangat mereka ataupun keinginan mereka bertemu kita juga sangat luar biasa,” katanya.
Program BSI Explore 2026 di Desa Pantai Bahagia tidak hanya berfokus pada literasi digital. Mahasiswa juga mendampingi guru dalam proses pembelajaran literasi dan numerasi selama berada di sekolah.
Dafi menjelaskan, program tersebut kemudian dilengkapi dengan sejumlah kegiatan yang disesuaikan dengan jenjang siswa. Untuk kelas 1, mahasiswa menggelar kegiatan menggambar dan mewarnai, sedangkan siswa kelas 2 dan 3 mengikuti kegiatan bercerita berdasarkan gambar.
Sementara itu, siswa kelas 4, 5, dan 6 mengikuti lomba puisi serta kuis matematika. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi cara mahasiswa mengemas proses belajar agar lebih interaktif sekaligus memberikan ruang bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Menurut Dafi, pengalaman selama berada di sekolah memperlihatkan bahwa kebutuhan pendidikan anak tidak hanya berkaitan dengan materi pembelajaran. Akses terhadap pengalaman, teknologi, kreativitas, serta pendampingan juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan diri dan kemampuan siswa.
Selama menjalankan BSI Explore, mahasiswa UBSI mendapatkan dukungan dari pemerintah desa dan pihak sekolah. Dhafi mengatakan, pihak desa menerima kehadiran mahasiswa dengan baik, bahkan Sekretaris Desa Pantai Bahagia, Ahmad Qurtubi, turut membantu mahasiswa mengenali berbagai potensi dan kondisi wilayah setempat.
“Untuk pihak desa sendiri alhamdulillah mereka sangat welcome kepada kita. Bahkan sekretaris desa di sini yaitu Bapak Ahmad Qurtubi, dia selalu mengajak kita explore ke mana-mana, menjadi seperti tour guide di sini, menjelaskan apa saja yang ada di sini,” ujar dhafi.
Dukungan serupa juga diberikan pihak sekolah. Menurut dhafi, guru-guru turut membantu pelaksanaan berbagai kegiatan, termasuk menjadi juri dalam sejumlah perlombaan yang diikuti siswa.
Kolaborasi tersebut membuat mahasiswa tidak berjalan sendiri dalam menjalankan program. Sekolah dan pemerintah desa menjadi bagian penting dalam memastikan kegiatan yang dirancang dapat diterima dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bagi Dhafi, BSI Explore 2026 pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang mahasiswa berikan kepada masyarakat. Pengalaman selama berada di Pantai Bahagia justru membuat mahasiswa mendapatkan pelajaran tentang arti keterbatasan, semangat belajar, dan kemauan untuk terus mencoba.
Ia berharap ilmu yang telah diberikan, mulai dari penggunaan laptop hingga literasi dan numerasi, dapat dimanfaatkan siswa dalam kehidupan dan pendidikan mereka di masa mendatang.
“Saya berharap mereka bisa memanfaatkan dan mengimplementasikan di kemudian harinya agar bisa bermanfaat juga di masa yang akan datang,” kata Dhafi.
Baca juga: Pererat Silaturahmi, Tim BSI Explore 2026 Gandeng Pemuda Sukseskan Lomba Masak Liwet di Desa Salawu
Perjalanan anak-anak Pantai Bahagia menuju ruang belajar digital menjadi pengingat bahwa akses terhadap teknologi tidak selalu hadir dengan mudah. Ketika sebagian orang mungkin menganggap laptop sebagai perangkat yang biasa ditemui sehari-hari, bagi anak-anak tersebut, kesempatan untuk belajar menggunakannya menjadi sesuatu yang cukup berharga untuk diperjuangkan.
Di sanalah BSI Explore 2026 menemukan maknanya. Mahasiswa UBSI datang membawa program, tetapi justru anak-anak Pantai Bahagia yang mengajarkan satu hal sederhana kepada mereka, yaitu keterbatasan akses tidak selalu mampu mengalahkan besarnya keinginan untuk belajar.