Kampus Itu Bukan Cuma Tempat Kuliah, Tapi Tempat Belajar Jadi Manusia
BSINews, Karawang – Kalau dipikir-pikir, kampus itu aneh. Ia bisa jadi tempat paling akademis, tapi juga paling absurd. Di satu sisi, kita belajar teori-teori besar dari dosen yang serius banget ngomong soal moral dan integritas. Tapi di sisi lain, kita bisa lihat mahasiswa yang dengan santainya datang telat setengah jam sambil ngopi boba dan bilang, “Maaf, macet, Pak.” Padahal, kampusnya cuma beda tiga gang dari kos.
Nah, di antara gedung kuliah, kertas fotokopian, dan obrolan warung kopi depan kampus, di sanalah sebenarnya etika mahasiswa terbentuk. Bukan semata dari mata kuliah Etika Profesi, tapi dari hal-hal kecil, seperti bagaimana kita nyapa satpam pagi-pagi, gimana kita ngejawab dosen waktu ditegur, atau seberapa sering kita minta maaf kalau salah ngomong di grup kelas.
Baca juga: Ngomong Percaya Diri, Karier Tak Terbatas! Saatnya Kuliah di Ilmu Komunikasi UBSI Kampus Tangerang
Lingkungan kampus tuh ibarat latihan kehidupan. Di sini, mahasiswa belajar bergaul sama orang dari berbagai latar belakang, ada yang ambisius banget sampai nggak pernah tidur, ada yang santai banget sampai lupa tanggal ujian. Dalam proses itulah, perbedaan pandangan sering muncul. Kadang bikin diskusi jadi menarik, kadang malah bikin debat yang ujung-ujungnya saling unfriend.
Etika dalam kampus, kalau mau jujur, bukan soal pakai batik tiap Kamis atau ngasih salam waktu masuk kelas. Lebih dalam dari itu, etika adalah bagaimana kita memperlakukan orang lain, bahkan ketika nggak ada dosen yang lihat.
Menurut penelitian Universitas Indonesia tahun 2023, 68 persen mahasiswa bilang bahwa lingkungan kampus sangat memengaruhi sikap sosial mereka. Artinya, kalau kampusnya punya budaya yang sehat, di mana perbedaan dihormati, organisasi mahasiswa aktif, dan komunitasnya solid, maka mahasiswa biasanya tumbuh dengan etika yang lebih baik. Tapi kalau kampusnya cuek, penuh drama, atau dibiarkan tanpa aturan yang jelas? Ya siap-siap aja, yang tumbuh bukan karakter, tapi ego.
Mahasiswa yang aktif di organisasi biasanya cepat belajar satu hal penting, dunia nggak muter cuma buat dirinya sendiri. Mereka belajar ngomong sopan, nyusun acara bareng, sampai ngerasain gimana rasanya dimarahin panitia senior karena salah pasang banner. Semua itu pelajaran hidup yang nggak ada di silabus.
Dan lucunya, kadang yang paling mengajarkan etika bukan dosen, tapi pengalaman. Misalnya, waktu kamu nyontek dan ketahuan, atau waktu kamu telat ngumpul tugas lalu kena semprot di depan kelas. Dari situ, pelan-pelan, kita belajar tanggung jawab. Belajar malu. Belajar menghargai waktu.
Menurut Mohamad Syamsul Aziz, Kepala Kampus Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Cikampek, kampus ideal bukan cuma tempat menuntut ilmu, tapi juga tempat menumbuhkan karakter.
“Kampus seharusnya jadi ruang aman untuk tumbuh. Di sini, mahasiswa nggak cuma belajar teori, tapi juga belajar menghormati, berempati, dan bertanggung jawab. Etika itu pondasi yang akan mereka bawa ke dunia kerja nanti,” ujarnya.
Ucapan itu mungkin terdengar sederhana, tapi kalau direnungkan, benar adanya. Dunia kerja nanti nggak cuma menuntut kemampuan teknis, tapi juga kepribadian yang kuat dan beretika. Dan semua itu mulai dibentuk dari bangku kuliah.
Baca juga: Cerita Inspiratif Sinta Fatikha Rohma, Mahasiswa Prestasi UBSI Kampus Cikampek
Karena kuliah itu bukan cuma soal dapat nilai A atau gelar sarjana. Itu soal bagaimana kita belajar jadi manusia yang tahu batas, tahu sopan, dan tahu bagaimana menghormati orang lain.
Jadi, kalau ada yang bilang kampus cuma tempat belajar teori, mungkin dia belum pernah ngobrol sama ibu kantin, belum pernah bantu panitia acara yang panik karena kabel proyektor hilang, dan belum pernah minta maaf sama dosen karena salah kirim email jam dua pagi.