Kolaborasi Kreatif di Seminar Kemerdekaan Digital UBSI Kampus Yogyakarta: Inovasi AI Berbasis Budaya Lokal

0 26

BSINews, Yogyakarta — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin pesat dan mulai merambah ke berbagai sektor, termasuk pendidikan, industri kreatif, hingga pariwisata. Melihat fenomena ini, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Yogyakarta  menghadirkan Seminar Kemerdekaan Digital dengan tema “Harmonizing Creativity and Innovation Based on Heritage”. Acara ini digelar di Dagadu Yogyatorium pada Kamis (4/9).

Pada sesi pembuka, Co-Founder DICO, Bryan Givan, menegaskan peran AI dalam mendukung kehidupan sehari-hari.

“AI kini menjadi alat penting dalam pekerjaan kreatif seperti penulisan konten, desain digital, hingga manajemen acara. Melalui program CERMAI, kami ingin membekali guru dan pelajar dengan keterampilan berbasis AI agar siap menghadapi tantangan masa depan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (5/9).

Kolaborasi Kreatif di Seminar Kemerdekaan Digital: Inovasi AI Berbasis Budaya Lokal

Sementara itu, Co- Founder Yayasan BSI, Ir. Naba Ajinotoseputro menyoroti pentingnya sinergi antara dunia pendidikan dan industri lokal.

“Kolaborasi antara UBSI, Dagadu, HeHa, dan DICO dapat membuka banyak peluang magang dan kerja sama industri. Namun, penggunaan AI harus diarahkan dengan bijak karena teknologi ini bisa menjadi kekuatan besar, sekaligus ancaman jika tidak dimanfaatkan dengan benar,” katanya.

Seminar juga menjadi ajang apresiasi bagi SMA Negeri 1 Samigaluh yang memperoleh penghargaan sebagai sekolah dengan jumlah siswa terbanyak melanjutkan studi ke UBSI kampus Yogyakarta. Perwakilan sekolah, Sholihatun Badriyah, menyampaikan harapannya.

“Kondisi ekonomi dan sosial siswa memang menjadi tantangan, tetapi keberadaan beasiswa dari UBSI sangat membantu membuka jalan bagi siswa kami untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi,” jelasnya.

Dari perspektif industri kreatif, Direktur Dagadu Djokdja, Mia Argianti, menekankan pentingnya menjaga keaslian karya lokal.

“Dagadu tetap setia dengan identitas Jogja, meskipun produk kami hadir di berbagai kota. Kami selalu menyesuaikan desain dengan karakteristik daerah, tanpa menghilangkan akar budaya yang menjadi ciri khas,” terangnya.

Sementara itu, Dekan FEB UBSI, Dr. Ani Wijayanti, menilai capaian akreditasi Unggul sebagai bukti komitmen kampus dalam pendidikan berkualitas.

“UBSI masih muda, tetapi pencapaian ini menunjukkan keseriusan kami. Lebih dari itu, kami ingin mengembangkan inovasi produk budaya berbasis filosofi lokal agar tidak sekadar mengikuti tren, melainkan tetap menjaga nilai keaslian,” ungkapnya.

Baca juga: Seminar Kemerdekaan Digital UBSI Kampus Yogyakarta: Sinergi Kreativitas, Budaya, dan Teknologi

Pada sesi penutup, perwakilan HeHa Group, Nurwulan Isnielma, menyoroti pentingnya daya tarik budaya bagi generasi muda.

“Budaya harus dikemas dengan pendekatan visual dan naratif yang segar agar tetap relevan. Kolaborasi lintas sektor akan memperkuat pariwisata sebagai industri kreatif berbasis budaya,” tandasnya.

Rangkaian seminar ditutup dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara UBSI, Dagadu, dan HeHa sebagai wujud konkret membangun ekosistem pendidikan dan industri kreatif yang berpijak pada nilai-nilai budaya lokal. Kehadiran UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif semakin menegaskan perannya dalam menjembatani dunia pendidikan dengan industri, sekaligus menjaga kelestarian budaya di era digital.(Tiara Sari)

Leave A Reply

Your email address will not be published.