Dari Mimpi Masa Kecil ke Puteri Indonesia Jawa Barat, Devi Aprilia Putri Kini Kuliah di UBSI

0 6

BSINews, Bekasi – Ada mimpi yang tumbuh dari hal sederhana. Bagi Devi Aprilia Putri, keinginan menjadi Puteri Indonesia bermula dari kebiasaan diam-diam menonton ajang kecantikan bersama sang kakak saat masih kecil. Kini, mimpi tersebut membawanya menjadi First Runner-Up Puteri Indonesia Jawa Barat Pariwisata dan Lingkungan 2025, sekaligus mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI).

Devi mengaku, menjadi Puteri Indonesia sudah menjadi cita-citanya sejak kecil. Cerita tersebut bahkan bermula dari sebuah “operasi rahasia” di rumah ketika ia masih harus tidur sebelum pukul 22.00 karena dilarang orang tuanya menonton televisi hingga larut malam.

Baca juga: Dari Palembang ke Dunia Pageant, Puteri Indonesia Sumatera Selatan 2024 Kini Jadi Mahasiswa UBSI

Namun sang kakak yang dikenal tomboi tetapi menyukai ajang kecantikan justru membangunkannya sekitar pukul 23.30. Keduanya kemudian menonton ajang Puteri Indonesia bersama-sama dengan volume televisi yang sengaja dikecilkan agar tidak ketahuan orang tua.

Pada awalnya, ketertarikan Devi memang sederhana. Ia menyukai mahkota dan gaun yang dikenakan para peserta. Namun, semakin dewasa, ketertarikan tersebut berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius hingga akhirnya ia melihatnya sebagai tujuan yang ingin diperjuangkan.

Perjalanan tersebut kemudian membawanya menjadi First Runner-Up Puteri Indonesia Jawa Barat Pariwisata dan Lingkungan 2025. Dari ajang tersebut pula, Devi mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan melalui beasiswa penuh 100 persen untuk berkuliah di UBSI.

Beasiswa Membawa Devi ke Bangku Kuliah UBSI

Bagi Devi, kesempatan mendapatkan beasiswa tersebut menjadi salah satu alasan penting memilih UBSI sebagai tempat melanjutkan pendidikan. Ia menilai UBSI memiliki pilihan program studi yang lengkap sehingga dapat mendukung perjalanan pendidikan dan kariernya.

Keputusan tersebut juga mempertemukannya dengan pengalaman baru sebagai mahasiswa. Selama berada di lingkungan UBSI, Devi mengaku terkesan dengan pelayanan yang diberikan, termasuk ketika dirinya berada di Wisma BSI pada kesempatan Seminar Motivasi (SEMOT) 2026.

Pengalaman tersebut membuat Devi semakin yakin dengan pilihannya. Ia juga menyimpan harapan bahwa lingkungan pendidikan yang dijalaninya dapat melahirkan lebih banyak lulusan yang mampu berkembang dan menjadi sosok hebat di bidangnya masing-masing.

“Pendidikan menjadi bagian penting dari perjalanan mengejar mimpi. Gelar dan pengalaman akademik bukan sekadar pelengkap, tetapi dapat menjadi bekal untuk memperluas kemampuan dan membuka lebih banyak peluang,” ujar Devi.

Kuliah, Jadi Puteri Indonesia, Sekaligus Bekerja di KAI

Kesibukan Devi tidak berhenti pada aktivitas perkuliahan dan tugasnya sebagai Puteri Indonesia. Ia juga bekerja di PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai Executive Marketing Maintenance dan Operational Spare Part Service (MOS).

Di lingkungan KAI, Devi juga berperan sebagai influencer internal sekaligus brand ambassador yang turut mempromosikan layanan dan produk perusahaan.

Dengan berbagai aktivitas tersebut, manajemen waktu menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kesehariannya. Namun, Devi tidak melihat manajemen waktu sebagai persoalan rumus yang harus dibuat dengan formula tertentu.

Menurutnya, tidak ada formula A-B-C-D yang secara khusus menjadi kunci untuk membagi waktu. Hal yang lebih utama adalah intention atau niat dan desire atau keinginan.

Jika seseorang memiliki niat dan keinginan yang kuat terhadap sesuatu yang ingin dicapai, Devi percaya berbagai aktivitas akan lebih mudah diatur. Keinginan untuk terus berkembang membuat seseorang terdorong untuk menemukan cara agar pekerjaan, pendidikan, dan tanggung jawab lainnya tetap berjalan.

Jangan Takut Mengejar Mimpi

Saat hadir dan bertemu dengan mahasiswa baru UBSI, Devi melihat generasi muda yang memiliki energi dan potensi luar biasa. Ia pun membawa pesan yang berangkat dari perjalanan hidupnya sendiri, terutama tentang keberanian mempertahankan mimpi.

Menurut Devi, mimpi yang berharga justru bukan mimpi yang mudah dicapai. Semakin sulit sebuah mimpi untuk diwujudkan, semakin besar pula alasan untuk terus memperjuangkannya.

“Kalau kita punya mimpi dan itu bisa digapai, berarti mimpi itu belum terlalu berharga. Ketika mimpi itu sulit dan belum kita capai, itu adalah mimpi yang paling berharga dan harus terus diperjuangkan,” pesannya.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi mahasiswa baru yang sedang memulai perjalanan pendidikan. Empat tahun di bangku kuliah bukan hanya tentang menyelesaikan mata kuliah, tetapi juga kesempatan untuk menemukan potensi, mencoba berbagai hal, membangun relasi, dan menentukan arah masa depan.

Devi mengingatkan agar mahasiswa tidak mudah takut ketika menghadapi tantangan. Mimpi yang besar memang tidak selalu hadir bersama jalan yang mudah, tetapi proses panjang itulah yang membuat pencapaiannya memiliki arti.

Baca juga: Dari Puteri Pendidikan Indonesia 2019, Chila Kini Jadi Mahasiswa S2 UBSI

Ia juga berpesan agar mahasiswa tidak melupakan mimpi yang pernah mereka miliki dan tetap bersyukur kepada Tuhan dalam setiap proses yang dijalani.

Sebab, seperti perjalanan Devi, sebuah mimpi bisa saja bermula dari sesuatu yang sederhana. Dari menonton mahkota dan gaun melalui televisi secara sembunyi-sembunyi, kemudian tumbuh menjadi keberanian untuk mengejarnya hingga benar-benar berdiri di atas panggung.

Leave A Reply

Your email address will not be published.