Seni Bertahan Hidup di Antara Deadline, Dompet Tipis, dan Dosen Killer
BSINews, Bekasi – Siapa bilang jadi mahasiswa itu santai? Coba tanya siapa pun yang sedang kuliah, dijamin mereka bakal tertawa getir dulu sebelum menjawab. Hidup mahasiswa itu campuran antara film thriller dan komedi absurd, seperti dikejar deadline, dikejar dosen, dan lebih sering dikejar tagihan kos daripada gebetan.
Belum lagi kalau tanggal tua datang lebih cepat daripada semangat bangun pagi. Di situ biasanya muncul keahlian baru seperti menyulap sisa uang 20 ribu jadi bekal seminggu penuh. Menunya? Nasi, telur, dan kreativitas tanpa batas. Kadang telur dadar, kadang telur ceplok, kadang telur yang cuma dibayangkan.
Baca juga: Dosen UBSI Beri Pelatihan Green Product kepada Guru Lembaga Pendidikan Kazama Tambun Selatan
Menjadi mahasiswa itu kayak ikut lomba lari jarak jauh tanpa tahu di mana garis finish-nya. Setiap kali tugas selesai, muncul tugas baru. Setiap kali gajian alias orang tua transfer, langsung habis dalam dua hari karena “ada kebutuhan mendesak” (baca: nongkrong, kopi susu, dan paket data).
Tapi justru di sinilah keindahan masa kuliah, di tengah kekacauan itu, mahasiswa belajar bertahan hidup. Bukan cuma dari segi akademik, tapi juga dari realitas kehidupan. Maka muncullah istilah survival kit, bukan kotak darurat berisi makanan kaleng dan senter, tapi kumpulan kebiasaan kecil yang bikin hidup mahasiswa tetap waras.
“Mahasiswa itu bukan cuma dituntut pintar di kelas, tapi juga cerdas mengatur hidup,” kata Kepala Kampus Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Cibitung, Nicodias Palasara, saat berbagi pandangan tentang pentingnya kebiasaan positif bagi mahasiswa.
“Kalau mereka bisa mengelola waktu, tenaga, dan keuangan sejak kuliah, itu bukan cuma bikin hidup lebih tenang, tapi juga jadi bekal penting untuk dunia kerja nanti,” ujarnya sambil tersenyum, seolah tahu betul bagaimana perjuangan anak kos yang berhadapan dengan tanggal tua.
Sebagian mahasiswa mengira “strategi bertahan hidup” itu hal besar, padahal kadang cukup dengan hal-hal sepele. Bikin jadwal belajar realistis (nggak usah mimpi bisa baca lima bab dalam semalam), tidur cukup (karena kopi tiga gelas bukan solusi jangka panjang), dan sesekali kasih waktu diri sendiri buat istirahat.
Kalau di kampus, manfaatkan semua fasilitas gratis. Di UBSI misalnya, perpustakaan bukan cuma tempat WiFi-an, tapi ruang tenang buat belajar tanpa gangguan notifikasi TikTok. Kalau di kos, belajar masak itu investasi masa depan, bukan cuma hemat, tapi juga bisa jadi bisnis kecil kalau resepnya enak.
Baca juga: Dosen UBSI Dorong Transformasi Digital Tata Pamong Lewat Prompt AI
Dan yang paling penting punya support system. Teman yang bisa diajak belajar bareng, curhat soal tugas, atau minimal pinjam printer kalau lagi krisis toner. Karena bertahan sendirian di dunia perkuliahan itu berat, tapi kalau rame-rame, bisa sambil ketawa.
Karena pada akhirnya, jadi mahasiswa bukan cuma soal mengejar IPK tinggi, tapi soal belajar jadi manusia yang bisa menertawakan lelahnya, bangkit dari jatuhnya, dan tetap waras di tengah deadline yang datang silih berganti. Dan kalau semua itu masih terasa berat, ya nggak apa-apa. Kadang, survival kit paling ampuh cuma dua hal yaitu nasi telur dan niat yang belum punah.(ACH)