Beasiswa Bukan Lagi Mimpi, Cerita Para Orang Tua yang Datang Demi Masa Depan Anaknya
BSINews, Karawang – Hari itu, Rabu, 2 Juli 2025, Ruang 201 Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Karawang penuh sesak. Bukan oleh mahasiswa yang rebutan Wi-Fi atau dosen yang ngebut nyari absen, tapi oleh wajah-wajah serius dan harapan yang menggantung di mata para orang tua. Ada yang datang dari Telukjambe, ada yang dari Rengasdengklok, ada pula yang datang dari ujung-ujung Karawang yang kalau dicari di Google Maps aja harus nge-zoom tiga kali.
Mereka bukan datang untuk minta diskon uang kuliah, bukan pula ikut seminar parenting ala selebgram yang ngajarin anak harus diberi afirmasi tiap bangun tidur. Mereka datang karena satu hal, yaitu ingin tahu bagaimana caranya anak mereka bisa kuliah tanpa bikin dapur berhenti ngebul.
Baca juga: Nikmati Olahraga Sambil Dapat Beasiswa! UBSI Kampus Sukabumi Tawarkan Potongan 20% di Lapang Merdeka
UBSI Kampus Karawang, kampus yang biasanya jadi tempat mahasiswa ngoding sampai mata merah, hari itu berubah jadi tempat curhat massal tentang kegelisahan orang tua. Seminar bertajuk “Tips Meraih Beasiswa di Perguruan Tinggi” digelar dengan harapan bisa menjawab satu pertanyaan klasik yang terus menghantui banyak keluarga, “Bisa nggak sih anak saya kuliah tanpa bikin utang nambah?”
Dibuka langsung oleh Kepala Kampus UBSI Kampus Karawang, Hasan Basri, yang untuk ukuran acara formal terlihat cukup santai tapi tetap serius. Ia menggarisbawahi satu kenyataan pahit, banyak anak pintar yang gagal kuliah cuma gara-gara nggak mampu bayar. Bukan karena bodoh, bukan karena malas, tapi karena sistem kadang terasa terlalu jauh dari realita dapur rakyat.
Lalu naiklah ke panggung Raswin, seorang finansial advisor dari BTN Karawang. Jangan bayangin orang bank ini kayak CS yang sok cuek di kantor ya, karena Raswin justru menyampaikan materi dengan gaya yang bikin orang tua manggut-manggut dan mahasiswa baru yang ikut jadi nyesel kenapa nggak tahu soal beasiswa dari dulu.
Ia membedah satu per satu jenis beasiswa, mulai dari KIP Kuliah yang katanya bisa menanggung biaya kuliah dan biaya hidup (iya, biaya hidup juga, Bos!), sampai beasiswa Karawang Cerdas, hingga beasiswa dari kampus dan swasta. Raswin menegaskan: “Sering kali penghalangnya bukan soal duit, tapi soal informasi.”
Dan benar saja. Salah satu peserta, Sonson dari Rengasdengklok, bilang sambil senyum malu-malu, “Saya kira beasiswa itu cuma buat anak yang ranking satu terus. Ternyata banyak banget program lain. Saya langsung semangat bantu anak buat daftar.”
Sesi tanya jawab pun jadi ajang pembuktian. Nggak ada yang malu-malu. Orang tua bertanya tentang teknis pendaftaran, persyaratan surat keterangan tidak mampu, sampai soal bagaimana menulis surat motivasi yang “menyentuh hati”. Sebuah frasa yang biasanya kita dengar pas nulis caption perpisahan SMA, tapi kali ini terasa sangat penting.
UBSI Sebagai Kampus Digital Kreartif juga nggak cuma berhenti di seminar. Mereka sediakan layanan konsultasi pendidikan gratis habis acara. Ada yang langsung antri. Ada juga yang diskusi kecil di lorong, saling tukar info soal anak mereka dan rencana kuliah yang dulu cuma jadi angan-angan.
Dan, dari semua momen itu, ada satu yang bikin hati agak terenyuh. Seorang ibu, mungkin usianya 50-an, mengusap matanya pelan saat mendengarkan pemaparan tentang bagaimana KIP Kuliah bisa membantu anak-anak dari keluarga sederhana. Mungkin ia ingat betapa beratnya dulu harus putus sekolah. Dan hari itu, ia duduk di seminar, demi memastikan anaknya nggak ngalamin hal yang sama.
Acara berakhir sekitar pukul 12 siang. Tapi percik semangatnya nggak berhenti di situ. Rasanya, seminar ini lebih dari sekadar edukasi. Ia jadi titik temu antara harapan dan kesempatan. Antara orang tua yang khawatir dan kampus yang berusaha menyambut.
Baca juga: Waspadai “Fake Scholarship”, UBSI Kampus Tasikmalaya Tekankan Beasiswa Resmi yang Mudah Diakses
UBSI Kampus Karawang melalui acara ini membuktikan bahwa mereka bukan sekadar kampus pencetak sarjana, tapi juga jembatan antara cita-cita dan kenyataan. Di negeri yang kadang bikin pendidikan terasa seperti barang mewah, hadirnya seminar parenting semacam ini adalah oase kecil yang menyejukkan hati.
Karena di balik setiap anak yang ingin kuliah, selalu ada orang tua yang rela duduk di seminar, mencatat, bertanya, dan pulang dengan hati sedikit lebih ringan. Dan buat mereka, mimpi tentang kuliah bukan lagi sekadar mimpi. Kini, sudah ada peta. Sudah ada arah. Tinggal jalan bersama, bareng-bareng.(ACH)