Panggung Harapan di Auditorium Kampus! Saat Orang Tua, Mahasiswa, dan Mimpi Duduk Semeja di acara BKOT
BSINews, Bekasi – Sabtu pagi yang biasanya diisi dengan rebahan atau cuci motor, kali ini berubah jadi momen penuh haru dan harap di auditorium Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Kaliabang pada Sabtu (12/7). Lebih dari 300 wajah, campuran antara gugup, penasaran, dan bangga hadir di acara BKOT alias Bincang Kampus bersama Orang Tua.
Dan ini bukan acara tempelan belaka. Ini semacam soft launching masa depan. Tempat di mana kampus dan orang tua saling kenalan, saling paham, dan mulai menyusun simpul-simpul harapan terhadap generasi yang bakal menggantikan kita nanti, yaitu para mahasiswa baru.
Baca juga: UBSI Kampus Pontianak Gelar BKOT, Perkuat Kolaborasi Kampus dan Orang Tua
Kepala Kampus UBSI kampus Kaliabang, Muhamad Tabrani, menyambut para tamu dengan pidato yang hangat tapi nancep. Tabrani bilang, kampus ini bukan sekadar tempat belajar teori. Ini adalah rumah tumbuh, tempat para mahasiswa digembleng jadi pribadi tangguh.
“Kami ingin anak-anak Bapak dan Ibu bukan cuma lulus, tapi sukses,” ujarnya. Kata-kata itu disambut anggukan pelan dari para orang tua, mungkin dalam hati mereka berkata, “Aamiin, Pak. Kami juga pengin gitu.”
Lalu muncullah segmen yang bikin suasana makin hidup, sesi berbagi kisah dari alumni dan mahasiswa berprestasi. Ini bukan cerita yang dibikin-bikin demi konten brosur kampus. Ini kisah nyata dari orang yang pernah duduk di kursi mahasiswa UBSI dan sekarang berdiri sebagai bukti bahwa kampus ini serius mengantar anak-anak muda ke masa depan yang cerah (dan bergaji tetap).
Sebut saja Leonardus Satrio Eko Permadi, alumni UBSI yang kini menjabat sebagai Relationship Manager Mikro di Bank DKI. Ia menceritakan perjalanan dari hari-hari penuh tugas kampus sampai sekarang mengelola nasabah dan target.
Bukan kisah penuh glamour, tapi jujur dan membumi. “Saya belajar banyak soal disiplin dan relasi waktu kuliah,” kata Leonardus. Bapak-bapak di kursi belakang manggut-manggut, mungkin membayangkan anaknya bisa kerja di bank dan pulang bawa amplop tiap bulan.
Lalu tampil pula Mega Aulia Utami, mahasiswi UBSI yang sukses lolos Program International Student Mobility 2025 ke Filipina. Dengan santai tapi mantap, Mega bilang bahwa mahasiswa UBSI bukan cuma bisa bersaing di kampung sendiri, tapi juga di panggung global. Wow. Kalimat itu sukses bikin beberapa orang tua diam-diam buka Google, nyari tahu “University of Northern Philippines itu di mana ya?”
Belum cukup sampai situ, panggung BKOT juga dihiasi oleh Nurfadhilah Tahara Ditya, mahasiswi sekaligus host acara yang tampil luwes, penuh percaya diri, dan asik banget! Gaya bicaranya yang ringan dan berenergi seolah jadi bukti nyata bahwa UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif nggak cuma ngajarin teori, tapi juga kasih panggung buat mahasiswanya berkembang jadi manusia seutuhnya. Bahkan untuk jadi MC acara resmi pun, mahasiswanya udah siap tampil.
Sesi tanya jawab pun bikin suasana makin hidup. Orang tua bukan cuma jadi tamu pasif, tapi benar-benar terlibat. Ada satu pertanyaan dari Irawan, orang tua yang sepertinya sudah siap jadi investor utama dalam hidup anaknya. Ia tanya, “Gimana caranya anak saya bisa aktif organisasi tapi nggak keteteran kuliah?” Pertanyaan klasik, tapi penting.
Jawaban Leonardus dan Mega cukup meyakinkan. Di UBSI, kegiatan non-akademik itu bukan pengganggu, justru pendukung. Kampus ini tahu bahwa hidup itu nggak cukup cuma pintar ngitung atau ngoding. Harus juga bisa komunikasi, kerja tim, dan ngatur waktu. Di sinilah mahasiswa dibekali keseimbangan antara otak, hati, dan soft skill.
Di akhir acara, satu hal yang jelas terasa, ini bukan sekadar pertemuan formal antara kampus dan wali murid, tapi bentuk nyata dari kolaborasi. UBSI tidak menganggap mahasiswa sebagai angka dalam laporan akademik, tapi sebagai manusia yang sedang tumbuh dan butuh dukungan dari segala arah.
Baca juga: UBSI Kampus Margonda Ajak Orang Tua Aktif Dampingi Anak di Dunia Kampus lewat BKOT
Dan yang paling penting, kampus ini tidak menjanjikan jalan mulus. Tapi ia membuka jalan, menyediakan lampu, dan memberi peta. Selebihnya, anak-anak kita sendirilah yang akan melangkah.
Jadi, kalau hari itu auditorium penuh harapan, bukan karena orang tua datang dengan ekspektasi tinggi, tapi karena akhirnya mereka tahu, anak-anak mereka nggak jalan sendiri.(ACH)