Bahasa Indonesia Mendunia, Di Mana Posisi Bahasa Inggris Kini?
Oleh: Bambang Sucipto dari Unit Sistem Informasi, Keilmuan Bahasa Akper Bina Insan (Saat ini sedang dalam penyatuan dengan Universitas Bina Sarana Informatika Menjadi Fakultas Ilmu Kesehatan UBSI)
BSINews, Jakarta-Penetapan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi Konferensi Umum UNESCO pada 20 November 2023 bukan hanya sebuah prestasi simbolik ini adalah titik balik dalam sejarah diplomasi linguistik Indonesia. Untuk pertama kalinya, bahasa yang lahir dari semangat Sumpah Pemuda 1928 itu diakui dunia sejajar dengan bahasa-bahasa global seperti Inggris, Mandarin, dan Prancis. Ini bukan hanya soal pengakuan formal, tetapi juga bentuk penguatan identitas, kebanggaan, dan eksistensi Indonesia dalam percakapan dunia.
Baca Juga: Dosen UBSI Dampingi Mahasiswa Kenalkan Bahasa Inggris Dasar untuk Anak-anak Kampung Pemulung
Namun, dalam gegap gempita euforia ini, sebuah pertanyaan tak kalah penting muncul: Di mana kini posisi Bahasa Inggris?
Bahasa Indonesia: Dari Rumah ke Dunia
Dengan lebih dari 275 juta penutur, Bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga pembentuk identitas kolektif bangsa. Kini, bahasa ini telah menjadi jembatan antarbangsa ditandai dengan program BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) yang berkembang di lebih dari 50 negara. Fakta bahwa ribuan pelajar dan peneliti asing kini tertarik mempelajarinya, bukan hanya karena struktur fonetiknya yang ramah, tetapi juga karena bahasa ini membuka jalan memahami budaya, pasar, dan masyarakat Indonesia secara utuh.
Bahasa Indonesia, yang dulunya dianggap “lokal”, kini tumbuh menjadi “global” tanpa kehilangan akar budayanya. Keberhasilan ini tak hanya menegaskan kekuatan diplomasil lunak Indonesia, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sebuah bahasa nasional bisa menjadi alat strategis negara dalam membangun pengaruh dan koneksi internasional.l
Bahasa Inggris: Tetap Relevan, Tetap Vital
Namun, perlu diingat, pengakuan terhadap Bahasa Indonesia tidak serta merta menggantikan urgensi penguasaan Bahasa Inggris. Justru di tengah pergeseran geopolitik dan perkembangan teknologi yang pesat, kemampuan bilingual bahkan multilingual menjadi kebutuhan dasar abad ke-21.
Bahasa Inggris masih dan akan tetap menjadi tulang punggung komunikasi internasional. Ia adalah bahasa dominan dalam jurnal akademik, perjanjian diplomatik, ilmu pengetahuan, ekonomi digital, dan hampir seluruh sektor kerja global. Tanpa kompetensi yang memadai dalam Bahasa Inggris, generasi muda Indonesia akan kesulitan mengakses literatur mutakhir, terlibat dalam kolaborasi riset lintas negara, atau berpartisipasi dalam forum-forum elite dunia.
Kesenjangan penguasaan Bahasa Inggris bukan lagi sekadar persoalan pendidikan, tapi menyangkut posisi tawar bangsa. Jika kita abai, maka kesempatan emas seperti beasiswa internasional, startup berorientasi global, hingga kontribusi dalam pengambilan keputusan dunia, akan lepas begitu saja.
Menyeimbangkan Kebanggaan dan Kesiapan Global
Bahasa Indonesia kini telah mendunia. Tapi untuk menjadi pemain utama dalam tata dunia baru, kita harus menyiapkan generasi yang cakap dalam Bahasa Inggris, tanpa meninggalkan identitas bahasanya sendiri.
Artinya, kebijakan bahasa kita harus inklusif dan strategis mengutamakan pelestarian dan perluasan Bahasa Indonesia sembari memastikan bahwa Bahasa Inggris tetap diajarkan secara efektif, kontekstual, dan berorientasi masa depan.
Baca Juga: Penguatan Bahasa Indonesia di Kancah Global, Mahasiswa UBSI Kampus Pontianak Ikuti Sosialisasi BIPA
Karena di dunia yang saling terhubung ini, siapa yang mampu menguasai banyak bahasa, dialah yang mampu menjembatani dunia. Maka, mari kita rayakan kejayaan Bahasa Indonesia, sambil terus memperkuat jendela dunia kita: Bahasa Inggris. (RDX)