Belajar Hak Asasi dari Bangku SD, Saat Anak-anak Mulai Bicara Soal Keadilan
BSINews, Bekasi – Ada yang beda di SD IT Annashiriyah Bekasi, pada 22 April 2025 kemarin. Ruang kelas yang biasanya dipenuhi suara guru mengeja huruf atau anak-anak yang ribut berebut tempat duduk, hari itu berubah jadi panggung kecil untuk sebuah diskusi besar, yaitu Hak Asasi Manusia (HAM).
Iya, kamu nggak salah baca. Anak-anak kelas 1 sampai 3 SD lagi belajar soal HAM—bukan cuma soal rebutan bangku atau bekal temannya dicomot, tapi tentang hak untuk dihargai, untuk bicara, dan bahkan untuk berbeda. Semua ini berkat tangan-tangan muda dari mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) yang tengah menjalankan tugas pengabdian masyarakat mereka.
Mengusung tema “Mengenal Hak dan Kewajiban Sejak Dini: Pendidikan HAM untuk Anak Sekolah Dasar”, tim mahasiswa yang dikoordinatori oleh Ariel Duta Wijaya ini datang bukan cuma bawa spidol dan modul. Mereka bawa cerita, bawa permainan, dan bawa semangat untuk membuat hal serius jadi terasa dekat dan menyenangkan.
Salah satu metode favorit anak-anak adalah saat mereka diajak membaca cerita bergambar. Di situ, hak untuk bermain, hak untuk belajar, dan hak untuk merasa aman digambarkan dengan tokoh-tokoh lucu yang jauh dari kesan ceramah. Anak-anak tertawa, tapi juga mikir. Apalagi ketika kuis ringan dilempar, mereka berebut jawab dengan semangat yang sama seperti waktu istirahat rebutan bola.
Ariel dengan tenang bilang, “Pendidikan HAM itu nggak harus nunggu kita dewasa. Justru anak-anak yang diajari sejak kecil, punya bekal jadi manusia yang lebih adil dan menghargai sesama.” Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tapi isinya berat dan penuh harapan.
Ahmad Fiqhri, Kepala Sekolah SD IT Annashiriyah Bekasi, nggak bisa menyembunyikan senyumnya. Ia mengaku kagum dan berterima kasih atas kehadiran para mahasiswa UBSI.
“Jarang-jarang anak-anak diajak mikir soal keadilan kayak gini. Biasanya ya belajar Matematika atau ngafal surat pendek. Tapi hari ini mereka diajak mikir, apa artinya jadi manusia yang adil,” ujar Fiqhri.
Dan itu penting. Karena di tengah dunia yang makin bising dan sibuk ini, banyak dari kita lupa, bahwa mendidik anak bukan cuma ngajarin mereka baca dan tulis. Tapi juga ngajari mereka bagaimana memperlakukan orang lain dengan baik. Nggak ngejek karena beda warna kulit. Nggak nyikut karena beda pendapat. Dan nggak merasa paling benar cuma karena dia yang paling keras suaranya.
Baca juga: Mahasiswa Universitas BSI Sosialisasikan Hak Asasi Manusia kepada Siswa SD di Bekasi
Kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah contoh kecil bahwa perubahan bisa dimulai dari ruang kelas dasar. Bahwa karakter bangsa nggak dibentuk di seminar mewah atau sidang paripurna, tapi dari cerita bergambar, dari kuis-kuis kecil yang bikin anak-anak mikir tentang kejujuran, keadilan, dan menghormati sesama.
Kalau hari ini mereka belajar menghargai hak orang lain, besar nanti mereka mungkin jadi orang yang tahu batas. Yang ngerti mana yang hak, mana yang rakus. Dan siapa tahu, salah satu dari mereka jadi pemimpin yang kita butuhkan—yang hatinya besar karena sejak kecil diajari bahwa semua orang punya hak untuk dihormati.(ACH)