Di Balik Mahkota Puteri Indonesia, Ada Mimpi Kuliah yang Diam-Diam Diperjuangkan
BSINews, Jakarta – Hari ini, Selasa (14/4) suasana pembekalan pra karantina Puteri Indonesia 2026 di Aula Mangunsarkoro terasa sedikit berbeda. Bukan hanya tentang bagaimana berdiri anggun atau menjawab pertanyaan dengan percaya diri, tapi tentang sesuatu yang lebih dalam, seperti bagaimana para finalis mengenal dirinya sendiri, lalu mengemasnya menjadi nilai yang punya arah.
Di hadapan 45 finalis dari seluruh Indonesia, Sindy Novela selaku perwakilan Yayasan Bina Sarana Informatika sekaligus Puteri Indonesia Jambi 2023 serta penerima beasiswa kuliah di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) ini berdiri bukan sekadar sebagai pembicara, tapi sebagai seseorang yang pernah ada di titik yang sama.
Puteri Indonesia Harus Miliki Identitas Diri
Ia tidak datang membawa teori kosong, melainkan pengalaman yang sudah ia jalani, jatuh bangun yang pernah ia rasakan, dan cara ia merangkainya menjadi identitas diri.
Baca juga: Puteri Indonesia 2026: Dari Panggung ke Pendidikan, Cerita di Balik Pembekalan
Materi yang ia bawakan terasa relevan dengan realitas hari ini. Personal branding bukan lagi sekadar pilihan, tapi kebutuhan. Bukan soal terlihat hebat di media sosial, tapi tentang bagaimana seseorang bisa dikenali karena nilai yang ia bawa.
“Personal branding bukan tentang terlihat sempurna, tapi tentang bagaimana kita konsisten menunjukkan siapa diri kita dan apa yang kita perjuangkan,” ujar Sindy Novela di hadapan para finalis pada Selasa (14/4).
Ia mengajak peserta untuk mulai dari hal yang paling sederhana yakni mengenal diri sendiri. Apa kekuatan yang dimiliki, apa nilai yang ingin dibawa, dan bagaimana hal itu bisa dikomunikasikan dengan cara yang jujur namun tetap strategis.
Dalam pemaparannya, Sindy juga menyinggung bagaimana dunia digital telah mengubah cara seseorang dinilai. Jejak digital kini menjadi “wajah kedua” yang dilihat publik, termasuk oleh institusi, brand, hingga peluang kerja di masa depan.
“Di era sekarang, apa yang kita tampilkan di ruang digital bisa membuka atau justru menutup peluang. Karena itu, penting untuk membangun citra diri yang tidak hanya menarik, tapi juga kredibel,” lanjutnya.
Tidak berhenti di personal branding, ia juga menekankan pentingnya pendidikan sebagai fondasi jangka panjang. Baginya, panggung seperti Puteri Indonesia memang membuka banyak pintu, tetapi yang membuat seseorang tetap relevan adalah kapasitas dirinya.
Yayasan BSI Siapkan Beasiswa S1 Hingga S3
Ia menyampaikan bahwa Yayasan BSI melalui UBSI memberikan kesempatan beasiswa pendidikan bagi seluruh finalis, mulai dari jenjang S1 hingga S3.
“Ajang ini bisa jadi awal, tapi pendidikan yang akan menjaga langkah kita tetap panjang. Karena itu, kesempatan belajar harus dimanfaatkan sebaik mungkin,” ungkapnya.
Materi yang disampaikan tidak terasa menggurui. Justru sebaliknya, seperti percakapan yang pelan tapi mengena. Beberapa finalis terlihat mencatat, sebagian lain hanya diam, mungkin sedang mencerna ulang arah yang selama ini mereka pikir sudah jelas.
Di ruang itu, definisi “siap tampil” seperti bergeser. Bukan lagi hanya soal penampilan luar, tapi tentang kesiapan membawa identitas, nilai, dan visi ke depan.
Karena pada akhirnya, menjadi finalis bukan hanya tentang berdiri di panggung. Tapi tentang bagaimana tetap berdiri setelah panggung itu selesai, dengan versi diri yang lebih sadar, lebih terarah, dan lebih siap menghadapi dunia yang jauh lebih luas.