Ketika Perahu Menjadi Jalan Anak-anak Pantai Bahagia Menuju Sekolah
BSINews, Bekasi – Bagi Sinta mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sekaligus mentor Tim 13 BSI Explore 2026 Desa Pantai Bahagia, pengabdian tidak berhenti pada program yang dibawa mahasiswa ke tengah masyarakat. Setelah melihat langsung kondisi Desa Pantai Bahagia, mulai dari akses jalan yang sulit hingga anak-anak yang masih mengandalkan perahu untuk pergi dan pulang sekolah, ia berharap ada perhatian lebih terhadap infrastruktur dan fasilitas pendidikan di wilayah tersebut.
Pengalaman selama berada di Pantai Bahagia membuat Sinta melihat dua sisi yang berjalan beriringan. Di satu sisi, masyarakat masih menghadapi keterbatasan akses, sementara di sisi lain desa tersebut menyimpan potensi besar berupa kawasan mangrove dan habitat lutung yang dapat dikembangkan menjadi ruang edukasi maupun wisata berbasis lingkungan.
Baca juga: BSI Explore 2026 Ikut Siapkan Semarak HUT ke 81 RI di Desa Kiarapayung
Menurut Sinta, perbaikan infrastruktur menjadi salah satu kebutuhan penting untuk membuka akses masyarakat sekaligus mengembangkan potensi Desa Pantai Bahagia.
Jika akses jalan dan mobilitas semakin baik, kawasan mangrove serta habitat lutung di Muara Bendera dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai ruang edukasi sekaligus destinasi wisata berbasis lingkungan.
“Saya berharap infrastruktur di sini bisa ditingkatkan kembali. Jalanan di sini juga diperbarui lagi. Kalau jalannya bagus, sebenarnya ini bisa menjadi tempat wisata yang bagus, terutama mangrovenya. Di ujung sana juga masih ada lutung yang hidup di kawasan mangrove,” ujar Sinta dalam keterangan rilis yang diterima pada Jumat (21/8).
Selain infrastruktur, Sinta juga berharap kebutuhan pendidikan dan kesejahteraan siswa di SDN Pantai Bahagia 02 semakin mendapat perhatian. Ia menyampaikan bahwa berdasarkan pengamatannya selama berada di lapangan, sekolah tersebut hingga saat ini belum mendapatkan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Untuk program Makan Bergizi Gratis, setahu saya SDN Pantai Bahagia 02 ini belum mendapatkannya. Sebelumnya sekolah juga sudah menyampaikan harapan agar program tersebut bisa diberikan, tetapi sampai saat ini belum turun,” kata Sinta.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu catatan yang dibawa mahasiswa setelah melihat langsung kondisi masyarakat selama menjalankan BSI Explore 2026. Sebab, bagi anak-anak Pantai Bahagia, persoalan pendidikan bukan hanya tentang apa yang mereka pelajari di dalam kelas, tetapi juga tentang bagaimana mereka bisa mencapai sekolah, mendapatkan fasilitas pendukung, dan tumbuh dalam lingkungan yang memberikan kesempatan yang setara.
Di tengah keterbatasan akses, Sinta justru melihat Pantai Bahagia menyimpan potensi besar. Perahu yang setiap hari menjadi sarana mobilitas anak-anak, hamparan mangrove yang berfungsi melindungi pesisir, hingga keberadaan lutung di Muara Bendera menjadi potongan cerita yang menunjukkan bahwa desa tersebut memiliki kekayaan sosial dan ekologis yang layak diperhatikan.
Baca juga: Menembus Akses Sulit, Mahasiswa BSI Explore 2026 Siapkan Penanaman Mangrove di Pantai Bahagia
Bagi Sinta, pengalaman BSI Explore 2026 akhirnya bukan hanya tentang menjalankan program kerja yang telah dirancang mahasiswa UBSI. Lebih dari itu, pengabdian menjadi kesempatan untuk melihat langsung realitas masyarakat, memahami persoalan dari jarak yang lebih dekat, sekaligus menemukan potensi yang mungkin selama ini luput dari perhatian.
Sebab, terkadang yang dibutuhkan sebuah desa bukan sekadar program yang datang dan pergi. Yang lebih penting adalah akses yang dibuka, potensi yang dirawat, dan perhatian yang membuat masyarakat merasa bahwa mereka tidak berjalan sendirian.