Seminar Transformasi Digital UBSI Bekali Mahasiswa Kuasai AI dan Siap Jadi Talenta Digital Masa Depan

0 7

BSINews, Jakarta- Seminar Transformasi Digital UBSI menjadi langkah nyata Program Studi Sistem Informasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Fatmawati dalam membekali mahasiswa menghadapi era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (9/7) ini diikuti 31 peserta dan menghadirkan praktisi teknologi Peter J. Kambey sebagai narasumber serta Nining Suryani sebagai moderator. Seminar mengangkat tema “Akselerasi Transformasi Digital dan Peningkatan Kompetensi Talenta Digital” dengan fokus pada penguatan kompetensi mahasiswa agar siap bersaing di dunia kerja yang semakin terdigitalisasi.

Baca juga: UBSI Siapkan Mahasiswa FTI Hadapi Era Digital Lewat Seminar Transformasi Digital 2025

Sebagai Kampus Digital Kreatif, Universitas BSI terus menghadirkan berbagai kegiatan akademik yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Melalui seminar, pelatihan, hingga kolaborasi bersama praktisi, UBSI berkomitmen mencetak lulusan yang adaptif, inovatif, dan memiliki daya saing tinggi di era transformasi digital.

Dalam sesi pemaparan, Peter J. Kambey menjelaskan bahwa perkembangan AI telah mengubah cara kerja berbagai industri, termasuk dalam pengembangan perangkat lunak melalui konsep vibe coding. Menurutnya, AI kini dimanfaatkan baik untuk proyek pribadi maupun di lingkungan kerja guna meningkatkan produktivitas pengembangan aplikasi. Namun, ia menegaskan bahwa setiap hasil yang dihasilkan AI tetap memerlukan validasi dan pengujian dari pengembang.

“AI tidak menggantikan peran programmer, tetapi menjadi alat bantu yang mampu meningkatkan produktivitas. Setiap kode yang dihasilkan tetap harus dipahami, diuji, dan divalidasi oleh developer karena tanggung jawab terhadap kualitas aplikasi tetap berada pada manusia,” jelas Peter J. Kambey.

Selain membahas pemanfaatan AI, seminar juga mengulas prospek karier talenta digital yang diprediksi terus meningkat seiring percepatan transformasi digital di berbagai sektor industri. Peter menyampaikan bahwa kebutuhan terhadap profesi berbasis teknologi akan semakin besar dalam beberapa tahun mendatang.

“Dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, profesi seperti AI Engineer, Data Analyst, Data Scientist, Cybersecurity Specialist, Cloud Engineer, Software Developer, DevOps Engineer, hingga UI/UX Designer akan semakin dibutuhkan. Namun yang paling penting bukan hanya kemampuan teknis, melainkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan memanfaatkan AI secara efektif untuk menghasilkan solusi yang inovatif,” ungkapnya.

Antusiasme peserta terlihat pada sesi diskusi yang berlangsung interaktif. Mahasiswa mengajukan berbagai pertanyaan mengenai implementasi AI dalam pemrograman, peluang karier di bidang digital, hingga strategi belajar agar mampu mengikuti perkembangan teknologi yang terus berubah.

Menanggapi kekhawatiran mengenai penggunaan AI secara berlebihan, Peter mengingatkan bahwa teknologi tersebut harus dimanfaatkan secara bijaksana agar tidak mengurangi kemampuan berpikir dan analisis penggunanya.

“AI ibarat senjata bermata dua. Jika digunakan untuk belajar dan meningkatkan produktivitas, manfaatnya sangat besar. Namun jika digunakan tanpa memahami logika dan dasar pemrograman, seseorang justru akan bergantung pada AI sehingga kemampuan analisis dan penyelesaian masalah tidak berkembang,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa di tengah pesatnya perkembangan AI, keunggulan seseorang tetap ditentukan oleh kemampuan berpikir kritis, kreativitas, pengalaman, serta pemahaman terhadap kebutuhan pengguna dan dunia bisnis.

Menutup seminar, Peter memberikan motivasi kepada mahasiswa agar tidak merasa tertinggal dalam menghadapi perubahan teknologi. Ia mengajak mahasiswa untuk terus belajar secara bertahap dan menjadikan AI sebagai mitra dalam proses pengembangan kompetensi.

“Tidak perlu menguasai semuanya sekaligus. Mulailah dari dasar, fokus pada satu bidang yang diminati, lalu belajar secara konsisten melalui praktik dan proyek sederhana. Jadikan AI sebagai partner belajar, bukan sebagai pengganti proses berpikir. Dengan belajar sedikit demi sedikit setiap hari, kemampuan akan terus berkembang dan Anda akan lebih siap menghadapi perubahan teknologi,” pungkasnya.

Baca juga: UBSI Dorong Mahasiswa Kuasai Digitalisasi Lewat Seminar Transformasi Digital

Melalui Seminar Transformasi Digital UBSI ini, Program Studi Sistem Informasi Universitas BSI Kampus Fatmawati berharap mahasiswa semakin siap menghadapi tantangan era digital, mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, serta memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri sehingga dapat menjadi talenta digital yang unggul, inovatif, dan berdaya saing.

Leave A Reply

Your email address will not be published.