IT Bootcamp UBSI 2026 Cetak Talenta AI, Mahasiswa Ciptakan Solusi Digital untuk Kesehatan hingga Lingkungan

0 5

BSINews, Bogor – Transformasi dunia teknologi yang semakin dipengaruhi oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menuntut lahirnya talenta digital yang tidak hanya mampu membuat aplikasi, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Menjawab tantangan tersebut, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) melalui kolaborasi Program Studi Teknologi Informasi dan Program Studi Sistem Informasi sukses menyelenggarakan IT Bootcamp Batch 3 bertajuk Futurecode: AI-Driven Software Engineering.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari pada Senin-Selasa, 22-23 Juni 2026 di Asyana Hotel Sentul, Bogor ini menjadi wadah pengembangan kompetensi mahasiswa dalam bidang rekayasa perangkat lunak berbasis AI sekaligus mengasah kemampuan kolaborasi, inovasi, dan pemecahan masalah yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan.

Baca juga: Koding Itu Mudah, Ego yang Sulit: Bootcamp IT UBSI Buktikan Kolaborasi Kunci Kesuksesan

IT Bootcamp UBSI 2026

Ketua Program Studi Teknologi Informasi UBSI, Hendra Supendar, dalam sambutannya menegaskan bahwa perkembangan teknologi saat ini menuntut mahasiswa untuk terus meningkatkan kompetensi dan kesiapan menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif.

“IT Bootcamp menjadi salah satu sarana untuk menjembatani kebutuhan industri dengan kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa. Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menghasilkan karya yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Hendra, Senin (22/6).

Sementara itu, Ketua Program Studi Sistem Informasi UBSI, Sriyadi, memberikan pembekalan mengenai pentingnya integrasi antara kemampuan teknis, analisis kebutuhan pengguna, serta pemanfaatan teknologi AI dalam pengembangan perangkat lunak modern.

Antusiasme peserta semakin meningkat saat praktisi industri dari komunitas PHP Indonesia, Peter Jack Kambey, membawakan materi Coding Vibe. Dalam sesi tersebut, mahasiswa diperlihatkan bagaimana AI mampu mempercepat proses pengembangan aplikasi, mulai dari pembuatan kode program, pengelolaan basis data, integrasi dengan GitHub, hingga proses deployment ke lingkungan produksi hanya melalui serangkaian instruksi atau prompt.

“AI bukan untuk menggantikan programmer, tetapi menjadi alat yang membantu pengembang bekerja lebih cepat, lebih produktif, dan lebih fokus pada penyelesaian masalah yang kompleks,” jelas Peter, Senin (22/6).

Selain aspek teknis, peserta juga mendapatkan materi mengenai desain antarmuka dan pengalaman pengguna (UI/UX) dari Nining Suryani, serta pelatihan teknik presentasi menggunakan metode COVID (Content, Visual, Delivery) yang disampaikan oleh Tika Adilah.

Setelah melalui proses pengembangan intensif selama kurang lebih satu bulan dan penyempurnaan proyek selama bootcamp berlangsung, para mahasiswa mempresentasikan karya terbaik mereka di hadapan dewan juri.

Dari berbagai inovasi yang ditampilkan, tiga karya berhasil meraih penghargaan terbaik. Juara pertama diraih oleh tim pengembang Aplikasi Mobile AI untuk Analisis Label Gizi, sebuah aplikasi berbasis computer vision yang mampu memindai label kemasan makanan dan menganalisis kandungan nutrisi secara otomatis. Aplikasi ini memberikan rekomendasi kesehatan yang mudah dipahami sehingga membantu masyarakat mengambil keputusan konsumsi yang lebih sehat.

Posisi juara kedua diraih oleh Smart Eco Bank, platform bank sampah digital yang membantu masyarakat mengelola sampah daur ulang, memantau setoran, hingga menghitung nilai ekonomi sampah secara otomatis melalui aplikasi.

Sementara juara ketiga diraih oleh RuteAman Community, aplikasi pemetaan keamanan berbasis komunitas yang memungkinkan pengguna berbagi informasi kondisi lingkungan secara real-time untuk membantu masyarakat memilih rute perjalanan yang lebih aman.

Menurut Hendra Supendar, capaian mahasiswa dalam bootcamp ini menunjukkan bahwa generasi muda memiliki potensi besar untuk menghadirkan inovasi yang berdampak positif bagi masyarakat melalui teknologi.

“Kami melihat karya-karya yang dihasilkan mahasiswa tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga memiliki nilai sosial yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi alat untuk menyelesaikan berbagai persoalan nyata di masyarakat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa UBSI berkomitmen memberikan perlindungan terhadap karya inovatif mahasiswa melalui proses pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

“Kami berharap karya-karya terbaik yang lahir dari IT Bootcamp ini tidak berhenti sebagai proyek akademik semata. UBSI akan mendorong agar inovasi mahasiswa dapat memperoleh HKI sehingga memiliki nilai tambah dan peluang untuk dikembangkan lebih lanjut,” tambahnya.

Baca juga: IT Bootcamp Batch I UBSI Cetak Talenta Digital Ready Career

Sebagai Kampus Digital Kreatif yang telah meraih Akreditasi Unggul, UBSI terus menghadirkan berbagai program pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi terkini. Melalui IT Bootcamp Batch 3, UBSI berharap mampu melahirkan talenta digital yang tidak hanya menguasai teknologi AI, tetapi juga mampu menciptakan solusi inovatif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Bagi generasi muda yang ingin mengembangkan kemampuan di bidang teknologi informasi, sistem informasi, kecerdasan buatan, hingga pengembangan perangkat lunak, saat ini Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UBSI masih dibuka. Informasi lengkap mengenai program studi, beasiswa, dan pendaftaran dapat diakses melalui https://pmbubsi.id.

Leave A Reply

Your email address will not be published.