Mendeley, PKL, dan Dosa-Dosa Mahasiswa yang Tak Pernah Kutip Sumber dengan Benar

0 35

BSINews, Bogor – Jujur aja, siapa sih yang nggak pernah merasa pengin menghilang begitu dosen bilang, “Silakan mulai susun proposal PKL dan TA.” Kalimat itu sering kali datang lebih cepat dari kesiapan mental mahasiswa. Apalagi buat mahasiswa semester tengah, yang baru aja lepas dari euforia bikin PPT pakai template pastel dan bangga karena lulus mata kuliah Pengantar Sistem Informasi dengan nilai ‘B+’ hasil perjuangan.

Tapi di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Bogor, ada secercah cahaya dari langit HIMASA—Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi Akuntansi. Mereka sadar, bahwa salah satu sumber stres mahasiswa adalah referensi. Lebih tepatnya, referensi yang harus ditulis dengan benar, sesuai gaya APA atau IEEE, bukan asal comot Google dan nulis “sumber: internet.”

Baca juga: HIMASI Universitas BSI Kampus Tasikmalaya Sukses Adakan Workshop Mendeley Sebagai Strategi Mudah Hindari Plagiarisme

Maka lahirlah acara penuh berkah ini, yaitu Workshop Penulisan Karya Ilmiah dan Implementasi Mendeley. Diadakan Kamis, 17 April 2025, bertempat di kampus tercinta yang entah kenapa lebih sering jadi tempat curhat daripada belajar. Acara ini diikuti puluhan mahasiswa dari semester 2 sampai 6, plus tiga tamu kehormatan dari ORMAWA—organisasi mahasiswa yang sering disalahpahami sebagai tempat kumpul doang, padahal kerjaannya banyak.

Ketua pelaksana, Anfalia Naura Hasa, dan moderator Hasna Mufidah mengawal jalannya acara dengan tenang dan senyum tipis penuh harapan. Karena mereka tahu, ini bukan sekadar workshop. Ini semacam “rehab ilmiah” bagi para mahasiswa yang selama ini lebih akrab dengan fitur copy-paste daripada citation manager.

Siti Masripah dan Lila Dini Utami tampil sebagai pahlawan akademik. Mereka datang bukan dengan pedang, tapi dengan panduan PKL dan TA yang rinci banget—mulai dari struktur tulisan sampai teknik menyusun daftar pustaka. Tapi puncaknya, tentu saja, saat para peserta diperkenalkan dengan Mendeley.

Ah, Mendeley. Nama yang dulu asing tapi kini menjelma jadi senjata pamungkas mahasiswa. Aplikasi manajemen referensi ini bukan cuma alat, tapi penyelamat hidup. Sekali klik, keluar kutipan otomatis. Sekali sinkron, semua jurnal tersimpan rapi. Nggak ada lagi alasan “lupa nyatet sumber.”

Buat mahasiswa yang pernah bikin makalah dengan daftar pustaka cuma satu yaitu Wikipedia, acara ini semacam cuci dosa kolektif. Sesi demi sesi berjalan lancar, walau ada beberapa peserta yang sempat kaget, “Loh, ternyata sitasi itu penting, ya?” Iya, penting. Sama pentingnya kayak saldo akhir bulan.

Baca juga: HIMASA Universitas BSI kampus Bogor Gelar Workshop Mendeley

Yang bikin hangat, bukan cuma ilmu yang dibagikan, tapi niat baik HIMASA. Mereka tahu, jadi mahasiswa itu bukan cuma soal hafalan dan tugas, tapi soal bertumbuh. Bertumbuh jadi pribadi yang tahu batas antara mencari referensi dan menyalin hidup orang lain.

Dan semoga, setelah workshop ini, kutipan-kutipan karya ilmiah mahasiswa UBSI Kampus Bogor bukan lagi cuma “Menurut sumber yang saya baca di internet…” Tapi, sudah berubah jadi “Menurut Smith (2021)…” Mari kita rayakan kecil-kecilan, bukan cuma karena bisa sitasi otomatis, tapi karena generasi yang mau belajar itu selalu lebih baik daripada yang cuma mau lulus cepat.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.