Survei Awal BSI Explore 2026, Mahasiswa UBSI Petakan Potensi dan Tantangan Desa Sukasari

0 6

BSINews, Bogor – Sebelum terjun menjalankan rangkaian pengabdian melalui program BSI Explore 2026, mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) dari Kelompok 7 Desa Sukasari melakukan survei awal di Kampung Ci Janlapa, Desa Sukasari, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor pada Sabtu (1/8).

Kegiatan tersebut menjadi langkah awal mahasiswa Kelompok 7 Desa Sukasari BSI Explore 2026 untuk mengenali kondisi masyarakat sekaligus memetakan kebutuhan, potensi, dan tantangan desa sebagai dasar penyusunan program kerja yang tepat sasaran.

Baca juga: Tim BSI Explore Desa Jetis Gelar Aksi Donor Darah, Ajak Masyarakat Peduli Kemanusiaan

Kelompok 7 Desa Sukasari BSI Explore 2026 terdiri atas Shafira Aulia Suhan Noor selaku ketua, Aqila Fadya Hayah sebagai penanggung jawab publikasi, dokumentasi, dan desain (PDD), Intan Nuraeni sebagai bendahara, Piaherdina Hidayati sebagai sekretaris 1, dan Saniadevina sebagai sekretaris 2. Selama kegiatan survei, mereka didampingi Jordy Lasmana Putra selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).

Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa UBSI bersama DPL mendatangi SDN 04 Sukasari yang akan menjadi salah satu lokasi utama pelaksanaan program pengabdian. Tim juga meninjau calon posko sekaligus membangun komunikasi awal dengan masyarakat setempat untuk memperoleh gambaran lebih utuh mengenai kondisi lingkungan sekitar.

BSI Explore 2026 membawa tiga pilar utama pengabdian, yakni pendidikan dan literasi, pemberdayaan sosial dan ekonomi, serta pengembangan potensi desa. Ketiga pilar tersebut menjadi pijakan mahasiswa dalam merancang program yang tidak sekadar menyelesaikan persoalan sesaat, tetapi juga memiliki peluang untuk terus dilanjutkan oleh masyarakat.

Saat berada di SDN 04 Sukasari, mahasiswa UBSI berdiskusi dengan Euis, salah seorang guru di sekolah tersebut. Ia menjelaskan bahwa literasi masih menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapatkan perhatian, terutama kemampuan membaca siswa kelas bawah.

“Di sekolah ini mah kekurangan minat literasi neng. Waktu itu ada yang bangun pojok baca, tapi setelah mahasiswanya pulang anak-anak udah lepas aja gitu. Di setiap kelas juga pasti ada aja yang belum lancar bacanya, belum kenal huruf, terutama di kelas bawah, biasanya kelas 1 sampai 3,” ujar Euis dalam keterangan rilis pada (18/8).

Masukan tersebut menjadi catatan penting bagi mahasiswa UBSI untuk tidak sekadar membuat kegiatan literasi yang berlangsung selama program BSI Explore 2026, tetapi juga memikirkan bagaimana kebiasaan membaca dapat terus tumbuh setelah mahasiswa kembali ke kampus. Dengan demikian, program yang nantinya dirancang diharapkan mampu memberikan dampak yang lebih berkelanjutan bagi siswa dan lingkungan sekolah.

Selain melakukan observasi di sekolah, mahasiswa juga bersilaturahmi dengan pemilik posko, Yuli atau yang akrab disapa Teh Yuli. Interaksi tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal kehidupan masyarakat sekitar secara lebih dekat, mulai dari kondisi sosial hingga kebiasaan warga sehari-hari.

Suasana kekeluargaan semakin terasa ketika mahasiswa, DPL, dan tuan rumah menikmati makan siang bersama secara liwetan. Pada kesempatan tersebut, salah satu kelompok BSI Explore 2026 yang bertugas di Kampung Sawah, Kecamatan Rumpin, turut berkunjung sehingga terjalin interaksi dan kolaborasi antarmahasiswa yang sama-sama menjalankan pengabdian di wilayah Rumpin.

Pada sore hari, mahasiswa UBSI kemudian didampingi Euis untuk bertemu dengan Ketua RT setempat. Pertemuan tersebut dimanfaatkan untuk memperkenalkan anggota kelompok, menyampaikan tujuan kegiatan, serta menggali informasi mengenai kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun program kerja.

Dalam diskusi tersebut, Ketua RT menjelaskan adanya perubahan mata pencaharian masyarakat setelah aktivitas pertambangan di wilayah tersebut berhenti beroperasi. Sebagian warga kemudian beralih menjadi pemecah batu dengan penghasilan yang relatif terbatas.

“Di desa sini mah semenjak tambang ditutup, warganya pada motongin batu, hancurin batu buat pencaharian mereka. Itu juga satu kaleng cat 25 kilogram diupah cuma Rp4.000. Di kampung lain juga mata pencahariannya buat tusuk sate, jadi ada rumah produksinya neng,” jelasnya.

Informasi tersebut membuka perspektif baru bagi mahasiswa UBSI bahwa potensi pengabdian di Desa Sukasari tidak hanya berada pada sektor pendidikan, tetapi juga menyentuh aspek pemberdayaan ekonomi masyarakat. Kondisi tersebut dapat menjadi dasar untuk menggali potensi usaha lokal dan mengembangkan keterampilan masyarakat agar memiliki peluang ekonomi yang lebih beragam.

Bagi Kelompok 7 Desa Sukasari BSI Explore 2026, survei awal ini menjadi proses penting sebelum program kerja benar-benar dijalankan. Mahasiswa UBSI tidak ingin datang membawa solusi yang sudah jadi, tetapi terlebih dahulu mendengarkan masyarakat untuk memahami persoalan dan potensi yang ada di lapangan.

Baca juga: BSI Explore 2026 Ikut Siapkan Semarak HUT ke 81 RI di Desa Kiarapayung

Dari hasil observasi dan komunikasi tersebut, Kelompok 7 Desa Sukasari BSI Explore 2026 akan menyusun program kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan Desa Sukasari, khususnya pada aspek peningkatan kualitas pendidikan dan literasi, pemberdayaan ekonomi, serta pengembangan potensi lokal. Seluruh program diharapkan dapat dilaksanakan melalui kolaborasi bersama masyarakat, pihak sekolah, pemerintah setempat, dan berbagai unsur lainnya.

Melalui BSI Explore 2026, mahasiswa UBSI tidak hanya dituntut untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan, tetapi juga belajar membaca realitas masyarakat secara langsung. Ingin menjadi bagian dari generasi yang tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga tumbuh melalui pengalaman nyata? Kenali lebih jauh program pendidikan dan informasi penerimaan mahasiswa baru (PMB) UBSI melalui https://pmbubsi.id atau https://bsi.ac.id.

Leave A Reply

Your email address will not be published.